Sebelumnya perkenalkan
nama saya Rizqina Putri Mursalin, aku tinggal di Banda Aceh bersama Ibu dan
beberapa keluarga kecil lainnya, ayah dan adik ku meninggal saat terjadi
Tsunami beberapa tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 24 Desember 2004, aku
sekolah di SMP N 6 R-SBI BANDA ACEH, aku kelas VIII dan aku lahir pada tanggal
9 Juni 2000 jadi umur ku baru menginjak 12 tahun.
Aku akan berbagi sedikit
dari kisahku tentang Tsunami, Hoaaaaa panjang banget ceritanya jadi dulu aku
masih tinggal di ruko salon punya orang Cuma numpang tinggal karena rumahku
belum siap ditempati karena masih dalam pengerjaan, nah terus pagi itu ayah ku
mau pergi ke Meulaboh karena ayah ku menjadi guru di Meulaboh, jadi nenek aku
kan punya eomma (ibu) tpi biasa di panggil ama, dia itu agamanya Budha keluarga
ku memang banyak yang Budha tapi Alhamdulilah nenek aku sudah masuk Islam, nah
waktu itu hari minggu itukan Ama puasa jadi kalau orang Cina itu kalau puasa
makannya Cuma pakai tahu+tempe+sayur, pagi itu aku, adik sama ayah pergi ke
pasar untuk membeli itu semua, terus waktu mau pulang jalanan bergetar kuat
banget orang orang pada teriak ie laot
naek itu bahasa Indonesia ya “air laut naik”, aku sama adik nangis yang
umurnya kira kira baru 2 tahun waktu ayah aku mau pulang jatuh dijalan karena
getaran gempanya terlalu kuat dan jalanan udah padat tidak bisa dilalui
kendaraan, dengan sekuat tenaga kami berusaha untuk sampai dirumah, akhirnya
kami sampai juga dirumah, Ama sama Bunda ku kepalanya sudah bocor dan badannya
sudah berlumuran darah, apalagi waktu itu bunda ku lagi hamil, untung saja
kunci pintunya ayah aku bawa jadi kami menyelamatkan mereka lewat lewat pintu
belakang ruko, di belakang ruko itu ada sejahtera gallery yang jual aksesoris
gitu, nah kan dulu belum tahu kalau ada ruko gallery itu jadi bunda sama aku
lari kebelakang sampai akhirnya kepala aku dan bunda bocor sesampainya dirumah
aku sudah nangis nggak karuan karena lihat darah banyak banget, trus ada tukang
becak lewat, ayah ku memanggilnya jadi mereka di bawa ke Kesdam, ayah aku ikut jadi aku sama adek
dititipkan sama orang tukang jual mie razali, waktu aku dititipkan datang paman
aku yang baru beli ikan dari Lampulo jadi aku milih ikut paman kerumahnya biar
lebih selamat, disepanjang jalan aku Cuma nangis apalagi adek ku karena masih
ingat darah di kepala bunda, aku baru menyadari jika kepala ku juga bocor tapi
tidak seberapa darahnya Cuma sedikit, waktu sampai dirumah paman aku lihat dari
atas air lautnya naik, apalagi disimpang 5 airnya naik sekali trus bertambah
naik, semua udah tak berbentuk dan ketika keadaan mulai membaik paman
menelfon ayah bilang kalau aku sudah ada
dirumah paman, jadi aku diantar paman ke Kesdam, aku melihat banyak banget
orang yang minta tolong “ tolongin anak saya, kepalanya bocor, kakinya patah,
tanganya berdarah” ada anak nangis karena kesakitan, penuh banget deh di Kesdam
karena di aceh Cuma rumah sakit kesdam aja yang tidak terkena Tsunami disana
banyak banget orang yang minta tolong tapi tidak tertolong sampai akhirnya
banyak yang meninggal karena kesakitan dan kehabisan darah, tapi untungnya
bunda dan aku masih ada suster yang bisa menangani, Alhamdulilah aku dan bunda
selamat habis itu aku pulang kerumah buat ambil barang, baju dan lain-lain,
habis itu aku kembali ke Kesdam.
Setelah semuanya mulai
mereda kami pergi kerumah Miwa karena disitu nggak terkena tsunami, disana kami
hanya tinggal beberapa minggu. Karena Aceh saat itu keadaanya hancur jadi kami
pergi ke Takengon dan beberapa hari di Tkenongon karena hawa dinginya yang
nggak nahan dan kami pulang lagi ke Aceh, di depan ruko berjejer mayat yang
belum diangkat jadi kami langsung masuk dan menutup pintu lalu ngebersihin
lantai yang penuh dengan lumpur dan bau mayat busuk, oh iya gara-gara Tsunami
banyak orang yang masuk Islam karena waktu terjadi Tsunami orang orang yang ke
masjid banyak yang bilang kalau waktu itu ada burung yang mengankat Masjid Raya
dan Masjidnya utuh tidak lecet satupun dan lumpur tidak ada satupun padahal
bangunan disekelilingnya pada hanyut dan tak berbentuk dan ada juga Masjid
Uleen Lheu padahal disitu pusat terjadinya Gempa dan Tsunami tapi Masjidnya
masih utuh padahal yang lainnya rata dengan tanah, ada juga kapal PLTD Apung
yang terdampar dari Ulee Lheu sampai ke Punge, padahal kapal itu berat banget
kalau nggak salah 5 ton besi, dan mayat mayat yang tidak tertimbun di bawa ke
kapal itu dan sampai sekarang tidak ada yang bisa mengangkatnya padahal semua
alat berat sudah dikerahkan dan kalau malam malam ada suara dibawah kapal itu
“tolong saya, tolong saya”. Dan sekarang tempat itu menjadi tempat rekreasi,
ada juga kapal nelayan Lampulo yang tersangkut diatas atap rumah, semuanya rata
dengan tanah.
Tsunami tinggal kenangan
dan sekarang baru dibuat museum Tsunami, isinya itu foto foto kejadian waktu
Tsunami, di Peunayong itu dulu cina semua karena aku dulu tinggal di Peunayong,
dulu waktu ada Tsunami suasananya sunyi banget tapi sekarang sudah rame dan
banyak pendatang baru jadi tambah rame, dan kabarnya kejadian Tsunami ini
sampai ke mancanegara malahan banyak banget bantuan mancanegara yang
berdatangan. Dan dengan kejadian itu keluarga ku ada yang selamat, aku, bunda,
paman, bibi, keponakan 2, Ama dan sayang sekali ayah dan adik ku ikut hanyut
dan sekarang mayatnya masih di kapal Apung itu.
Sekarang aku tinggak di
Ulee Kareng bersama keluarga yang selamat, semua kejadian dan musibah yang menimpa
kami semua menjadi suatu pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga, aku dan
bunda sering mengunjungi ayah dan adik ku di kapal itu, namun entahlah aku
tidak pernah menemukan mayatnya, jadi kami labih mensyukuri hidup dan bersabar
akan keadaan, terkadang aku juga menangis kalau ingat kejadian 8 tahun yang
lalu, namun sekarang aku sudah ikhlas, aku dan bunda sekarang hidup bahagia
meski tanpa ayah dan keluarga yang tidak lengkap, bukankah semua itu Allah yang
mengatur, dan bunda selalu bilang kepada ku “ semua yang terjadi kepada
keluarga kita semuanya kehendak ALLAH, kita harus bersyukur”.
Rizqina
Putri Mursalin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar