Jumat, 15 Maret 2013

KISAH DIANTARA JIWA TSUNAMI



                      Sebelumnya perkenalkan nama saya Rizqina Putri Mursalin, aku tinggal di Banda Aceh bersama Ibu dan beberapa keluarga kecil lainnya, ayah dan adik ku meninggal saat terjadi Tsunami beberapa tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 24 Desember 2004, aku sekolah di SMP N 6 R-SBI BANDA ACEH, aku kelas VIII dan aku lahir pada tanggal 9 Juni 2000 jadi umur ku baru menginjak 12 tahun.
                      Aku akan berbagi sedikit dari kisahku tentang Tsunami, Hoaaaaa panjang banget ceritanya jadi dulu aku masih tinggal di ruko salon punya orang Cuma numpang tinggal karena rumahku belum siap ditempati karena masih dalam pengerjaan, nah terus pagi itu ayah ku mau pergi ke Meulaboh karena ayah ku menjadi guru di Meulaboh, jadi nenek aku kan punya eomma (ibu) tpi biasa di panggil ama, dia itu agamanya Budha keluarga ku memang banyak yang Budha tapi Alhamdulilah nenek aku sudah masuk Islam, nah waktu itu hari minggu itukan Ama puasa jadi kalau orang Cina itu kalau puasa makannya Cuma pakai tahu+tempe+sayur, pagi itu aku, adik sama ayah pergi ke pasar untuk membeli itu semua, terus waktu mau pulang jalanan bergetar kuat banget orang orang pada teriak ie laot naek itu bahasa Indonesia ya “air laut naik”, aku sama adik nangis yang umurnya kira kira baru 2 tahun waktu ayah aku mau pulang jatuh dijalan karena getaran gempanya terlalu kuat dan jalanan udah padat tidak bisa dilalui kendaraan, dengan sekuat tenaga kami berusaha untuk sampai dirumah, akhirnya kami sampai juga dirumah, Ama sama Bunda ku kepalanya sudah bocor dan badannya sudah berlumuran darah, apalagi waktu itu bunda ku lagi hamil, untung saja kunci pintunya ayah aku bawa jadi kami menyelamatkan mereka lewat lewat pintu belakang ruko, di belakang ruko itu ada sejahtera gallery yang jual aksesoris gitu, nah kan dulu belum tahu kalau ada ruko gallery itu jadi bunda sama aku lari kebelakang sampai akhirnya kepala aku dan bunda bocor sesampainya dirumah aku sudah nangis nggak karuan karena lihat darah banyak banget, trus ada tukang becak lewat, ayah ku memanggilnya jadi mereka di bawa  ke Kesdam, ayah aku ikut jadi aku sama adek dititipkan sama orang tukang jual mie razali, waktu aku dititipkan datang paman aku yang baru beli ikan dari Lampulo jadi aku milih ikut paman kerumahnya biar lebih selamat, disepanjang jalan aku Cuma nangis apalagi adek ku karena masih ingat darah di kepala bunda, aku baru menyadari jika kepala ku juga bocor tapi tidak seberapa darahnya Cuma sedikit, waktu sampai dirumah paman aku lihat dari atas air lautnya naik, apalagi disimpang 5 airnya naik sekali trus bertambah naik, semua udah tak berbentuk dan ketika keadaan mulai membaik paman menelfon  ayah bilang kalau aku sudah ada dirumah paman, jadi aku diantar paman ke Kesdam, aku melihat banyak banget orang yang minta tolong “ tolongin anak saya, kepalanya bocor, kakinya patah, tanganya berdarah” ada anak nangis karena kesakitan, penuh banget deh di Kesdam karena di aceh Cuma rumah sakit kesdam aja yang tidak terkena Tsunami disana banyak banget orang yang minta tolong tapi tidak tertolong sampai akhirnya banyak yang meninggal karena kesakitan dan kehabisan darah, tapi untungnya bunda dan aku masih ada suster yang bisa menangani, Alhamdulilah aku dan bunda selamat habis itu aku pulang kerumah buat ambil barang, baju dan lain-lain, habis itu aku kembali ke Kesdam.
                      Setelah semuanya mulai mereda kami pergi kerumah Miwa karena disitu nggak terkena tsunami, disana kami hanya tinggal beberapa minggu. Karena Aceh saat itu keadaanya hancur jadi kami pergi ke Takengon dan beberapa hari di Tkenongon karena hawa dinginya yang nggak nahan dan kami pulang lagi ke Aceh, di depan ruko berjejer mayat yang belum diangkat jadi kami langsung masuk dan menutup pintu lalu ngebersihin lantai yang penuh dengan lumpur dan bau mayat busuk, oh iya gara-gara Tsunami banyak orang yang masuk Islam karena waktu terjadi Tsunami orang orang yang ke masjid banyak yang bilang kalau waktu itu ada burung yang mengankat Masjid Raya dan Masjidnya utuh tidak lecet satupun dan lumpur tidak ada satupun padahal bangunan disekelilingnya pada hanyut dan tak berbentuk dan ada juga Masjid Uleen Lheu padahal disitu pusat terjadinya Gempa dan Tsunami tapi Masjidnya masih utuh padahal yang lainnya rata dengan tanah, ada juga kapal PLTD Apung yang terdampar dari Ulee Lheu sampai ke Punge, padahal kapal itu berat banget kalau nggak salah 5 ton besi, dan mayat mayat yang tidak tertimbun di bawa ke kapal itu dan sampai sekarang tidak ada yang bisa mengangkatnya padahal semua alat berat sudah dikerahkan dan kalau malam malam ada suara dibawah kapal itu “tolong saya, tolong saya”. Dan sekarang tempat itu menjadi tempat rekreasi, ada juga kapal nelayan Lampulo yang tersangkut diatas atap rumah, semuanya rata dengan tanah.
                      Tsunami tinggal kenangan dan sekarang baru dibuat museum Tsunami, isinya itu foto foto kejadian waktu Tsunami, di Peunayong itu dulu cina semua karena aku dulu tinggal di Peunayong, dulu waktu ada Tsunami suasananya sunyi banget tapi sekarang sudah rame dan banyak pendatang baru jadi tambah rame, dan kabarnya kejadian Tsunami ini sampai ke mancanegara malahan banyak banget bantuan mancanegara yang berdatangan. Dan dengan kejadian itu keluarga ku ada yang selamat, aku, bunda, paman, bibi, keponakan 2, Ama dan sayang sekali ayah dan adik ku ikut hanyut dan sekarang mayatnya masih di kapal Apung itu.



                      Sekarang aku tinggak di Ulee Kareng bersama keluarga yang selamat, semua kejadian dan musibah yang menimpa kami semua menjadi suatu pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga, aku dan bunda sering mengunjungi ayah dan adik ku di kapal itu, namun entahlah aku tidak pernah menemukan mayatnya, jadi kami labih mensyukuri hidup dan bersabar akan keadaan, terkadang aku juga menangis kalau ingat kejadian 8 tahun yang lalu, namun sekarang aku sudah ikhlas, aku dan bunda sekarang hidup bahagia meski tanpa ayah dan keluarga yang tidak lengkap, bukankah semua itu Allah yang mengatur, dan bunda selalu bilang kepada ku “ semua yang terjadi kepada keluarga kita semuanya kehendak ALLAH, kita harus bersyukur”.

                                                                                                         Rizqina Putri Mursalin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar