Selasa, 09 April 2013

Perkembangan Peserta Didik

akhirnya artikel q selesai, meski harus melewati beberapa ocehan dr dosen,, akhirnya selesai juga...
ini artikel awal q tentang pendidikan dan hubungannya dengan siswa serta perkekmbangan siswa dalam interaksi sekolah...


IMPLIKASI  KARAKTERISTIK
PESERTA DIDIK TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

Penyelenggaraan pendidikan baik pendidikan informal maupun non formal, terlebihh-lebih formal menghendaki adanya pemahaman terhadap karakteristik peserta didik secara baik. Hal ini sangat penting karena karakteristik peserta didik memiliki keterlibatan langsung terhadap penyelenggaraan pendidikan.

A.    Implikasi Faktor Intelektual terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Ditinjau dari segi pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran, yang paing penting adalah bahwa potensi setiap peserta didik termasuk kemampuan intelektualnya harus dipupuk dan dikembangkan agar setiap peserta didik dapat mencapai tingkat perkembangan yang optimal dalam arti setiap potensi peserta didik dapat terwujud, untuk itu sangat diperlukan kondisi-kondisi lingkungan yang memungkinkan berkembangnya kemampuan intelektual tersebut.
Conny Semiawan (1984) mengemukakan dua buah kondisi yaitu keamanan psikologis dan kebebasan psikologis. Peserta didik akan aman secara psikologis apabila:
1.      Pendidik dapat menerima peserta didik sebagaimana adanya tanpa syarat dengan segala kekuatan dan kelemahannya serta memberi kepercayaan padanya bahwa pada dasarnya ia baik dan mampu.
2.      Pendidik mengusahakan suasana dimana peserta didik tidak merasa dinilai oleh orang lain. Memberi nilai kepada seseorang dapat dirasakan sebagai ancaman, sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan diri. Memang kenyataannya pemberian penilaian tidak dapat dihindarkan dalam situasi sekolah, tetapi paling tidak harus diupayakan agar penilaian tidak bersifat atau mempunyai dampak mengancam.
3.      Pendidik memberikan pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran, perasaan dan perilaku peserta didik, dapat menempatkan diri dalam situasi anak, dan melihat dari sudut pandang anak. Dalam suasana ini anak akan merasa aman untuk mengungkapkan ide-idenya.
Peserta didik akan mersa kebebasan psikologis jika pendidik member kesempatan pada peserta didik untuk mengungkapkan pikiran atau perasaanya. Sebagai makhluk sosial, mengungkapkan pikiran atau perasaannya dalam tindakan yang merugikan orang lain atau merugikan lingkungan tidaklah dibenarkan. Hidup dalam mesyarakat menuntut seseorang untuk mengikuti aturan-aturan dan norma yang berlaku.
Pengalaman belajar yang aktif cenderung untuk memajukan perkembangan kognitif, sedangkan pengalaman belajar yang pasif dan hanya menikmati pengalaman orang lain saja akan mempunyai konsekuensi yang minimal terhadap perkembangan kognitif termasuk didalamnya perkembangan intelektual.
Sekolah sebagai lembaga formal diberi tanggung jawab untuk meningkatkan perkembangan anak (peserta didik), termasuk perkembangan intelektual. Dalam hal ini pendidik hendaknya menyadari benar-benar bahwa  perkembangan intelektual anak terletak ditangannya. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
1.         Menciptakan interaksi atau hubungan yang akrab dengan peserta didik. Dengan hubungan yang akrab tersebut secara bebas dapat dikonsultasikan dengan guru/pendidik.
2.         Member kesempatan kepada para peserta didik untuk berdialog dengan orang-orang yang ahli dan berpengalaman dalam berbagai ilmu pengetahuan akan sangat menunjang perkembangn intelektual anak.
3.         Menjaga dan meningkatkan pertumbuhan fisik peserta didik baik melalui kegiatan olahraga maupun menyediakan gizi yang cukup, sangat penting bagi perkembangan berfikir peserta didik. Sebab jika peserta didik terganggu secara fisik maka perkembangan intelektualnya juga akan terganggu.
4.         Meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik baik melalui mass-media cetak maupun menyediakan situasi yang memungkinkan peserta didik berpendapat atau mengemukakan ide-idenya, sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan intelektual peserta didik.

B.     Implikasi factor fisik terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Pertumbuhan fisik peserta didik pada usia sekolah menengah pada umumnya sangat pesat dan cepat. Baik remaja pria maupun wanita dalam masa ini pertumbuhan fisik umumnya lebih mengarah pada memanjang dari pada melebar. Sering pula terjadi pertumbuhan anggota badan yang tidak berimbang yang dapat mengakibatkan mereka mengalami ketidakseimbangan atau ketidakharmonisan gerak.
Sampai batas-batas tertentu, percepatan pertumbuhan fisik dapat dibantu dengan berbagai usaha antara lain:
1.      Menjaga kesehatan badan
Hidup sehat yaitu selalu menjaga kebersihan dan olah raga yang teratur agar dapat menjaga kesehatan badan. Namun bila ternyata masih juga terkena penyakit harus segera diupayakan agar segera lekas sembuh.
2.      Memberi makan yang baik
Makanan yang baik adalah makanan yang mengandung gizi, segar dan sehat dan tidak tercemar oleh kotoran penyakit.
Dalam penyelenggaraan pendidikan, perlu diperhatikan sarana dan prasarana yanga ada jangan sampai menimbulkan gangguan pada peserta didik, misalnya: tempat duduk peserta didik harus disesuaikan dengan sesuai kebutuhan, ruangan harus terang, ruangan yang baik yaitu ruangan yang terang dengan pencahayaan sinar matahari bukan lampu listrik, ventilasi yang mencukupi untuk serkulasi udara sehingga asupan oksigen dapat tercukupi dan fikiran dapat sehat dan focus.
Disamping itu istirahat juga diperlukan untuk memulihkan tenaga, bekerja terus menurus dapat mengakibatkan kelelahan dan kesetresan yang tidak menguntungkan bagi tubuh.
C.    Implikasi Faktor Emosional terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Perkembangan emosi peserta didik sangat erat kaitannya dengan factor-faktor perubahan jasmani, perubahan dalam hubungannya dengan orang tua, perubahan dalam hubungannya dengan teman-teman, perubahan pandangan luar (dunia luar) dan perubahan dalam hubungannya dengan sekolah. Oleh karena itu perubahan perbedaan individual dalam perkembangan emosi sangat dimungkinkan terjadi, bahkan dapat diramalkan dapat terjadi
Kebebasan emosional peserta didik dicapai sedikit demi sedikit selama proses pertumbuhan / perkembangan. Seorang anak menerima kebebasan emosional bila mana ia mempunyai kesempatan dalam setiap fase perkembangan. Ia akan belajar menerima pertanggungjawaban untuk aktifitasnya bila pengendalian dirinya tidak didasarkan ketakutan dan kekuasaan. Kesadaran ini diperoleh dari bimbingan orang dewasa. Bila rasa sosial anak diperoleh karena ketakutan dan kekerasan maka akan timbul perlawanan. Disiplin yang keras yang dipaksakan dengan suatu hukuman badan atau hukuman lain akan menimbulkan tingkah laku emosional (benci mendalam, agresif dan sebagainya), yang pada gilirannya akan terbawa ke masyarakat. Jika sudah demikian, biasanya akan menimbulkan masalah yang tidak saja menggelisahkan bagi anak itu sendiri tetapi juga orang tua, sekolah dan masyarakat.
Dalam rangka menghadapi luapan emosi remaja, sebaiknya ditangani dengan sikap yang tenang dan santai. Orang tua dan pendidik harus bersikap tenang, bersuasana hati yang baik dan penuh pengertian. Orang tua dan pendidik sedapat mungkin tidak memperlihatkan kegelisahannya maupun ikut terbawa emosinya dalam menghapi emosi remaja.
        Lingkungan masyarakat, hendaknya memberikan temoat yang layak kepada remaja yang sedang berkembang, misalnya dengan jalan menghargai ide-idenya, member kepercayaan kepadanya untuk melaksanakan tugas tertentu sesuai dengan kemampuannya. Tidak kalah pentingnya ialah menyalurkan kelebihan energy yang dimilikinya kearah kegiatan-kegiatan yang positif  sesuai dengan minat mereka masing-masing.

D.    Implikasi Faktor Sosial-Kultural terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Usia remaja adalah usia yang sedang tumbuh dan berkembang baik secara kuantitatif maupun kualitatif, baik fisik maupun psikisnya. Menganggap dirinya bukan akan lagi, tetapi sekelilingnya masih menganggap mereka belum dewasa. Mereka sering ingin bertindak dewasa , tetapi impulsivitasnya belum menunjukkan kedewasaanya.
Dengan beberapa problem yang dialaminya pada masa ini, mereka melepaskan diri dari orang tua dan mengharahkan perhatiannya kepada lingkungan di luar keluarganya untuk bergabung dengan teman sekebudayaanya (peer cultural), guru dan sebagainya. Lingkungan teman memegang peranan dalam kehidupan remaja. Remaja ingin masuk dalam bilangan teman sebaya baik itu disekolah maupun diluar sekolah. berdasarkan norma kelompoknya tidak jarang mereka bertingkah laku yang negative yang dipandang tercela oleh masyarakat.
Maka hendaknya upaya-upaya yang terintregasi dari berbagai piahak yaitu: keluarga, sekolah dan masyarakat. Kerja sama yang baik antara ketiga pihak tersebut akan sangat membantu pengembangan hubungan sosial para remaja.
Orang tua hendaknya mengentahu segi positif maupun negative dari sikap anaknya serta mengakui kedewasaan anak dengan jalan memeberi kebebasan untuk mengambil keputusan dan bertanggung jawab sendiri.
Selanjutnya sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang diserahi tugas untuk mendidik, tidak kecil peranannya dalam rangka mengembangkan hubungan sosial peserta didik. Sebagai lembaga pendidikan formal untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan untuk itu diperlukan rambu-rambu yang dapat digunakan sebagai titik tolak untuk emngembangkan hubungan-sosial peserta didik.
1.         Sekolah harus merupakan dasar untuk perkembangan kepribadian peserta didik. Tugas guru tidak hanya sekedar “to teach : mengajar” tetapi juag harus sebagai “to educate : mendidik” yaitu membina para peserta didik menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab dan “Pancasilalis”. Untuk keperluan itu maka syarat yang harus dipenuhi oleh seorang guru adalah: profesioanal, personal, morality, relegiousity, dan formality. Makh
2.         Saling menghargai merupakan kunci yang dapat digunakan untuk menghalangi masalah-masalah yang timbul dalam hubungan dengan peserta didik yang bertabiat apapun (asal masih dalam kategori normal). Sebagai guru harus dapat melihat dengan jelas bahwa setiap anak adalah makhluk manusiawi yang bermartabat, yang harus dihargaio sepenuhnya. Hanya dengan demikian dapat dibangun suatu landasan yang mengandung rasa pengertian, tempat guru dan peserta didik bekerja sama dengan efektif  dan sebagai patner.
3.         Pola pengajaran yang demoratis merupakan alternatif yang sangat bermanfaat bagi guru. Atas dasar prinsip demokratis, disusun suatu rumusan untuk membimbing peserta didik dalam kelompok kelas. Kebebasan yang demokratis bukan berarti kebebasan tanpa pengendalian. Rasa tanggungjawab tidak dihapuskan, tetapi dilimpahkan kepada setiap anak selama proses belajar mengajar berlangsung. Dengan demikian antara guru dengan anak, anak dengan anak, akan terjalin hubungan yang akrab sehingga hubungan sosial dapat berkembang secara efektif.
Tiap kebudayaan, lapisan sosial, kelompok agama dan sebagainya memiliki nilai-nilai tersendiri yang sudah pasti sangat berpengaruh terhadap para anggotanya. Merupakan tugas masyarakat untuk menekan tingkah laku yang positif, termasuk hubungan sosial remaja. Masyarakat juga harus member wadah bagi remaja untuk mengembangkan hubungan sosialnya antar lain melalui: karang taruna, sanggar seni dan tari, persatuan remaja masjid dan sebagainya.
Pada akirnya, antara ketiga pusat pendidikan tersebut harus saling bekerja sama sebik-baiknya, mengingat perkembanagn anak mulai dari keluarga, diteruskan dilingkuan sekolah dan berakhir dalam lingkungan masyarakat luas.

E.     Implikasi factor bakat khusus terhadap penyelenggaraan pendidikan
Berbeda dengan kemampuan yang menunjuk pada suatu “performance” yang dapat dilakukan sekarang, bakat sebagai potensi masih memerlukan latihan dan pendidikan agar “suatu performance” dapat dilakuklan pada masa yang akan datang. Hal ini memberikan pemahaman bahwa bakat manusia yang khusus sebagai “potential ability” untuk dapat terwujud sebagai “performance” atau perilaku nyata dalam bentuk suatu prestasi yang menonjol masih memerlukan latihan dan pengembangan lebih lanjut.
Disekolah pada idstribusi normal dari kemampuan belajar peserta didik, anak/remaja yang bakatnya berkembang dengan sempurna akan berada dalam kelompok diatas normal, mereka memiliki kemampuan lebih disbanding dengan kemampuan rata-rata perserta didik yang lain. Dengan bakat yang dimiliki secara khusus, mereka kana menunjukkan kemampuannya yang lebih dan akan memberikan prestasi yang tinggi dalam bidangnya.
Disamping progan  pendidikan khusus untuk siswa yang memilki bakat lebih, mereka juga membutuhkan dukungan lingkungan memberikan kesempatan kesempatan seluas-luasnya bagi perkembangan bakat-bakat khususnya. Dukungan lingkungan yang bersifat psikologis seperti minat, motivasi berprestasi , dukungan moral dari orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan terhadap bakat khusus peserta didik, disamping lingkungan fisik juga didukung oleh sarana prasana yang memadai.
Dalam kaitan ini, untuk menunjang perkembangan bakat umum maupun bakat khusus terlebih-lebih supaya mencapai titik optimal dikalangan peserta didik usia sekolah perlu dilakukan langkah-langkah antara lain:
1.      Dikembangkan suatu situasi dan kondisi yang memberikan kesempatan bagi peserta didik mengembangkan bakat-bakatnya, dengan selalu mengusahakan adanya dukungan psikologi maupun fisiologi.
2.      Dilakukan usaha penumbuhkembangkan minat dan motivasi berprestasi yang tinggi serta kegigihan dalam melakukan usaha dikalangan anak dan remaja, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat oleh semua pihak yang terkait secara terpadu.
3.      Dikembngkan dengan progam pendidikan berdeferensiasi di lingkungan lembaga pendidikan formal (sekolah) guna memberikan pelayanan secara lebih efektif kepada peserta didik yang memiliki bakat khusus menonjol.
F.     Implikasi Faktor Komunikasi terhadap Penyelenggaraaan Pendidikan
Tiga kemampuan peserta didik sebagaimana dikemukakan diatas tentunya akan sangat mempengaruhi aktivitas komunikasi dua arah antara pendidik dengan peserta didik. Persoalannya adalah bagaimana untuk menjadi pendidik yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik? Beberapa hal praktis dibawah ini mudah-mudahan dapat digunakan sebagai acuan oleh orang-orang yang berkecimung dalam dunia pendidikan.
1.      Member penjelasan
Dalam rangka menyampaikan informasi kepada peserta didik (yang berkaitan dengan iptek), hendaknya”
a.       Menentukan hal-hal pokoknya dan hubungannya satu sama lain.
b.      Member penjelasan yang menyakinkan artinya menerangkan hal-hal yang benar atau valid dana menghindari penjelasan-penjelasan yang salah yang sengaja ataupun tidak sengaja.
c.       Member penjelasan secara gamblang dan sederhana sehingga semua peserta didik dapat menangkapnya dengan baik.
d.      Menghindari berbicara dengan bahasa yang muluk dan mengusahakan berbicara dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh peserta didik.
e.       Menghindari penggunaan kata-kata yang tidak jelas, tidak pasti, dan tidak tegas.
f.       Memeriksa kembali penjelasan apakah semua peserta didik telah mengerti terhadap informasi  yang disampaikan.
2.      Mengajukan pertanyaan
Pertanyaan yng diajukan oleh pengajar dapat digolongkan dalam dua jenis, yaitu pertanyaan “tingakat tinggi” dan pertanyaan “tingkat rendah”. Pertanyaan tingkat tinggi adalah pertanyaan yang menuntut pemikiran abstrak, sedangkan pertanyaan tingkat rendah adalh pertanyaan yang menyangkut fakta, pengetahuan sederhan dan penerapan pnegertian.
Hal-hal yang perlu diusahakan oleh pendidik dalam kaitannya dengan kegiatan ini adalah:
a.       Mengulangi pertanyaan yang diajukan oleh peserta didik dengan maksud agar peserta didik yang lain mengetahui secvara jelas maslah yang dirtanyakan.
b.      Menempatkan pertanyaan peserta didik dalam konteks keseluruhan bahan pelajaran.
c.       Merangsang peserta didik agar mau mengajukan pertanyaan.
d.      Merespon pertanyaan dengan baik



3.      Memeberikan Umpan Balik
Dengan umpan balik akan diketahui apakah komunikasi dua arah sudah dicapai dengan baik atau belum dalam artyi penyampaian pesan dari pendidik kepada peerta didik sudah dimengerti/ difahami aatu belum. Umpan balik ini berlaku baik dari pengajar kepada peserta didik atau sebaliknya dari peserta didik kepada peserta didik



Nur Makhmudah
2012 A/1104120018
FKIP/ Pendidikan Matematika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar